Sistem Pendidikan

Sistem Pendidikan Candradimuka

 Pendahuluan

Gerakan Dwipantara banyak terinspirasi oleh gerakan El Sistema di Venezuela. Dimana gerakan El Sistema tersebut banyak memberi kontribusi bagi Negara Venezuela dalam menekan angka kriminalitas dimana korban maupun pelaku berasal dari kaum muda, menekan angka pengangguran dan kemiskinan. Bangsa Indonesia memiliki kultur yang berbeda dari negara-negara lain yang mengakibatkan bangsa Indonesia memiliki persoalan sendiri yang “khas”. Untuk itu dibutuhkan solusi yang “khas” pula yang sesuai dengan kultur Indonesia. Pendidikan menjadi garda terdepan dalam mengatasi permasalahan-permasalah tersebut. Beharap melalui pendidikan dapat meramu sebuah rumusan atau formula yang tepat dengan mengadopsi budaya dan kearifan lokalnya.

Sebuah sistem pendidikan dengan “spirit” berbagi adalah sebuah sistem yang sangat tua di bangsa kita. Seorang Empu menurunkan ilmu kepada para murid-muridnya dan para murid-muridnya menurunkan lagi kepada murid-muridnya yang lain. Sistem ini dipakai oleh padepokan-padepokan kuno yang menjadi kultur bangsa kita. Sistem ini mulai hilang karena dilihat kurang populer pada era modern ini, kurang menjual. Sistem padepokan ini tidak tersekat-sekat olah ruang maupun waktu. Bahwa ada tuntutan spiritual bahwa menurunkan ilmu itu adalah sebuah kewajiban, bahwa membangun manusia merupakan sebuah tindakan spiritual tertinggi.

Dwipantara ingin merumuskan sistem padepokan ini menjadi sebuah sistem yang dapat menjadi solusi yang kontekstual. Dengan tidak melupakan bahwa sekarang adalah jaman modern dan dengan tidak melupakan nilai-nilai warisan leluhur yang selalu aktual berharap dapat merumuskan sebuah sistem pendidikan yang kontekstual yaitu Sistem Pendidikan Candradimuka.

Sistem Pendidikan Candradimuka

Membentuk karakter yaitu meliputi kepribadian, sosial, emosi dan intelektual agar mampu menjawab permasalah yang terjadi dilingkungan keluarga, sekitar bahkan bangsa. Pembentukan karakter dilakukan melalui beragam media, salah satunya adalah Kesenian.

Menjadikan Lembaga Dwipantara sebagai rumah kedua bagi para anggota atau siswanya. Sebuah rumah merupakan tempat bagi keluarga berinteraksi, hubungan satu sama lain dapat terjalin dalam persaudaraan. Dalam sebuah keluarga perlu adanya budaya atau kultur didalamnya yang dapat menjaga sebuah keluarga tetap utuh. Dalam hal ini nilai atau norma “Kepatutan” dan “Kewajaran” haruslah dapat menjadi kerangka interaksi sosial yang terjadi didalamnya. Pembelajaran terjadi tidak hanya ditataran teknis semata, melainkan juga ditataran nilai atau norma yang membetuk budaya dan budaya sangat berkontibusi besar dalam pembentukan karakter.  Secara etimologis kata pedagogi berasal dari bahasa Yunani yakni, Paedos yang berarti adalah anak laki-laki dan Agogos yang maknanya mengantar atau membimbing. Kewajiban seorang pendidik atau pembimbing atau mentor adalah mengantar dan membimbing anggota atau siswanya agar menjadi manusia seutuhnya, manusia yang berbudaya. Menjadi manusia yang berbudaya inilah ultimate goal dari aktivitas pedagogis tersebut.

Lembaga sebagai episentrum kebudayaan. Lembaga harus mampu lepas dari kebekuan struktural ( Structural rigidity ), organisasi yang beku. Lembaga harus mampu melihat dirinya sebagai perkumpulan manusia atau organisme yang mampu bertumbuh dan berkembang sesuai karakter dan citra dirinya. Lembaga harus mampu menjadikan dirinya sebagai wadah orang-orang didalamnya bebas berkreasi, berinovasi dan eksplorasi dengan kata lain bebas berkreativitas. Kebebasan berkreasi adalah modal utama untuk terbangunnya suatu kebudayaan yang nantinya menjadi cikal peradaban.

Pembelajaran tidak lagi dibatasi oleh ruang-ruang kelas yang kaku, keras dan terbatas tembok. Dalam teori pendidikan sudah dikenalkan pembelajaran humanistik. Salah seorang tokoh utama teori pembelajaran humanistik ini yaitu Carl Rogers (Buku Freedom to Learn), menjelaskan bahwa sesungguhnya manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami. Tujuan dari pendidikan humanistik adalah untuk memanusiakan manusia. Jadi anggota atau siswa secara sadar harus melibatkan dirinya dalam proses pembelajaran. Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelektual, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan kontinu.

Hal-hal yang menjadi prinsip dasar dari Sistem Pendidikan Candradimuka semoga dapat bermanfaat. Candradimuka sendiri merupakan sebuah tempat, tepatnya Kawah Candradimuka dimana seorang Gatotkaca ditempa menjadi seorang tokoh pembela Khayangan. Gatotkaca dicelup kedalam kawah untuk membuang segala sifat jahat yang telah dibawanya sejak lahir. Empu Batara Anggajali seorang ahli pembuat senjata Khayangan menempa Gatotkaca menjadi salah satu senjata andalah Khayangan dalam menumpas kejahatan. Semoga Program Pendidikan Candradimuka yang terinspirasi dari cerita pewayangan ini mampu berkontribusi bagi bangsa Indonesia. Terima kasih.

Agung Siregar

Pendiri Dwipantara